Langsung ke konten utama

Postingan

Pentingnya Warna pada Ilustrasi Buku Anak

Sumber: mandira.id Pernahkah kita bertanya "Kenapa buku anak-anak selalu penuh warna?" Bahkan, sebagai orang dewasa, seringkali kita tertarik dengan sampul-sampul buku yang berwarna-warni. Faktanya, berdasarkan penelitian, warna memang bisa merangsang kecerdasan dan literasi pada anak.  Peneliti menyebutkan anak-anak lebih mampu mengklasifikasikan dan mengembangkan konsep-konsep tertentu di dunia nyata berdasarkan warna ketimbang bentuk dan fungsi suatu objek. Mereka dapat memahami makna simbolis dan disepakati secara universal. Misalnya ketika mereka melihat tiga warna pada rambu lalu lintas. Semua orang, secara konvensional, menyepakati bahwa lampu merah menandakan berhenti, kuning menandakan hati-hati, dan hijau menandakan jalan. Konvensi ini muncul karena manusia dengan penglihatan warna normal, tidak buta warna, bisa membedakan lebih dari enam juta warna. Artinya pengenalan visual warna bisa dilakukan sejak dini, alias ketika masih bayi. Meski begitu, sistem...

Kemampuan Berpikir Kritis di Era Kecerdasan Buatan

              Sumber: www.raullara.net Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mengalami kemajuan yang amat pesat sejak enam dekade lalu. Semua adalah impian menjadi kenyataan bagi Jules Verne dan H.G. Wells, sekaligus mimpi buruknya Isaac Asimov. Bagaimanapun imajinasi mereka berhasil mendorong berbagai inovasi di banyak bidang terkait teknologi dan rekayasa genetika. Pada akhirnya kecerdasan buatan ini membantu manusia dalam berbagai aspek kehidupan. Banyak penemuan di era digital ini terbentuk dan mengintegrasikan AI dalam penggunaannya. Kita bisa menemukan contohnya seperti fitur pengenalan suara dan wajah pada ponsel cerdas, robot otomatis di pabrik-pabrik perakitan, asisten virtual dan lainnya. Bahkan, informasi yang tampil pada laman media sosial kita pun diatur dan direkomendasi berdasarkan algoritma AI.  Belakangan masyarakat diramaikan dengan ChatGPT dan teknologi AI sejenisnya. Salah satu yang membuat ...

Lalu, dimana nurani?

"Kak, maaf ya aku perlu uang nih. Nggak banyak kok, lima ratus ribu aja." "Besok kita harus bayar pajak motor loh, jangan lupa lagi nanti kena denda." "Sudahlah Nak, kondisi kalian sekarang beda. Kalau mau kerja lagi, biar Ibu dan Bapak yang jaga anak-anak." ... Tetiba saja aku teringat semua perkataan keluargaku. Beban. Ah iya hidup itu kan memang penuh beban. Orang-orang sering melihat kehidupanku sekarang berkecukupan atau justru berlebihan. Bukan karena suamiku kaya raya tapi karena kenekatanku mengundurkan diri dari tempat yang melambungkan karirku. Karir. Sekarang pun aku wanita karir, seorang profesional yang dibayar bukan oleh uang tapi kepuasan. Kata siapa menjadi ibu bukan sebuah profesi? Oh iya, mungkin karena para ibu itu tidak keluar rumah, menenteng tas kerja, menggunakan kalung ID juga sibuk dengan gadget-nya. Padahal kerjaan ibu itu 24/7, dan istirahat ketika memungkinkan. Lah tapi bukannya sebelum aku mengundurkan diri pun jam kerjaku sepe...

Zero Waste: Kampanye, Kebijakan dan Literasi Soal Sampah

  Sumber: Bagus Puji Panuntun via Kompas.com Masihkah ingat tragedi Leuwigajah di tahun 2005 silam? 157 orang menjadi korban ketika tempat pembuangan akhir (TPA) sampah kota Bandung dan sekitarnya ini meledak dan longsoran sampahnya menimbun dua kampung, Kampung Cilimus dan Kampung Pojok. Ledakan ini disebabkan oleh gas metana yang dihasilkan oleh tumpukan sampah. Alhasil, Bandung saat itu menjadi "Bandung Lautan Sampah". Masalah sampah ini masih terus berlanjut dan masih menjadi isu global sejak lama. Di kota Bandung sendiri, pemerintah mencoba atasi masalah ini dengan membuka lahan untuk TPA baru dan sementara di kawasan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, tepatnya Desa Sarimukti. Karena lahan TPA ini bersifat sementara, pengelolaan sampah bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya memang harus mulai dikelola secara mandiri dan bijak. Walikota Bandung saat itu, Oded Danial, mendorong masyarakat Kota Bandung dengan program Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan). ...

Membaca buku fisik di era digital, masihkah relevan?

                 Sumber: freepik.com Sejak pertama kali purwarupa komputer diciptakan di tahun 1822 oleh Charles Babbage, komputer dan media penyimpanan data sudah mengalami evolusi yang luar biasa. Di tahun 1990an, media penyimpanan terpopuler adalah floppy disk. Alhasil menyimpan data dengan ukuran besar bisa mengunakan dua atau tiga buah floppy disk. Tas kuliah atau kerja pun terasa semakin besar dan berat. Perubahan pun terjadi dengan cepat. Di era 21 ini, semua data sudah tersimpan di "awan" alias cloud storage. Semuanya menjadi cepat, mudah, dan ringkas. Apapun jenis data yang disimpan atau dibutuhkan bisa segera diakses dalam hitungan detik dimana pun kita berada. Begitu juga dengan buku yang mengalami evolusi, dari tablet tanah liat menjadi buku digital. Buku digital sudah mulai dikenal sejak akhir tahun 1990an ketika perusahaan penerbitan Peanut Press menjual buku-bukunya dalam bentuk digital. Para pembaca menggunakan seb...

Membaca Nyaring, upaya keluarga atasi kenakalan remaja

Sumber: Dokumen Nasional Tempo, Tempo.co Beberapa waktu lalu, Antara News melaporkan bahwa di tahun 2022 lalu setidaknya ada 323 kasus kenakalan remaja terjadi di Jakarta Selatan saja. Ini berarti angkanya masih bisa terus bertambah seiring waktu dan meluasnya data yang diperoleh. Kenakalan remaja di era ini malah terasa lebih mengarah pada tindakan kriminal.  Mereka tidak lagi sekadar membolos sekolah dan menyalip uang SPP untuk jajan, tetapi juga menggunakannya untuk membeli minuman keras, obat-obatan terlarang, berjudi, tawuran, bahkan memperkosa. Mereka masih remaja, tetapi perilakunya sudah melebihi batas usia, norma dan hukum. Di bulan Februari lalu, ada sebuah peristiwa miris di dunia pendidikan. Sebuah aksi nekat seorang pelajar SMK di Samarinda yang menantang gurunya sambil menghunus parang ketika olahraga hanya karena sang guru menegurnya. Tindakan semacam ini tentunya tidak bisa lagi dianggap wajar atau kenakalan biasa. Para peneliti menyebutkan setidaknya a...

3 Strategi Membaca Aktif Novel/Cerpen

Foto: Thought Catalag via Unsplash Selama ini kita membaca novel dan cerpen hanya untuk refreshing, kan? Tetapi ketika kita menjadi seorang mahasiswa bahasa dan sastra, seringkali merasa tidak lagi bisa membacanya seperti biasa. Apalagi kita harus membuat tanggapan soal hasil baca kamu. Nah sebenarnya membaca karya sastra adalah suatu keharusan ya untuk para mahasiswa baru di jurusan sastra.  Membaca tetiba saja menjadi melelahkan padahal baru beberapa halaman. Memang sih dalam membaca karya sastra ini akan membutuhkan beberapa usaha. Salah satu cara yang bisa kita lakukan adalah dengan melakukan metode membaca aktif alias active reading . Maksudnya, kita disarankan untuk membuat banyak catatan selama membaca. Seringkali cara ini sangat membantu ketika kita harus menulis tentang suatu topik atau isu dari karya itu.  Dengan metode ini kita pun belajar menafsirkan teks dan mengatur setiap gagasan yang muncul pada saat membaca. Ilustrasi strategi membaca efektif (Foto: Russ Ward ...