Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerbung

Setangkai Lili Calla (Tamat)

Foto: Freepik.com Bion tampak gagah dengan setelan hitam, dan rangkaian baby breath di saku jasnya. Rambutnya disisir rapi dan kelimis. Dia bolak-balik sambil menggosokkan kedua tangannya.  Tiga orang temannya tertawa, tentu saja Bion yang menjadi bahan candaannya. Mereka pun tampil sangat rapi, tetap gagah meski ketiganya tidak menggunakan jas seperti Bion. Mereka menepuk-nepuk pundak Bion. Mereka tiba-tiba terdiam, seorang berjanggut di antara mereka menepuk pelan dada Bion dan mengisyaratkan supaya Bion berbalik. Firda berjalan diiringi kedua orang tuanya. Gaun putih panjang dengan siluet renda di bagian dada, senada dengan buket bunga lili calla di tangan Firda. Sebagian rambutnya disanggul, sebagian sengaja tergerai dan hiasan dari bunga-bunga segar melingkari sanggulnya. Lampu di kiri kanan menerangi langkahnya, sekaligus menciptakan siluet-siluet yang indah. Malam itu terasa sakral, rembulan sedang penuh dan tidak ada suara musik yang mengganggu kekhidmatan. Par...

Setangkai Lili Calla (Bag. 3)

Foto: Freepik.com "Buna, Isa mau es kim." Marissa berlari kecil dan menggelayuti ibunya. "Boleh, sedikit aja kamu masih agak pilek." Firda mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum. "Holeee, holeee. Makasih Buna." Marissa berjingkrak dan berputar-putar mengelilingi ibunya. Firda terbangun dipelukan Bion. Dia rupanya baru saja bermimpi, dia hilang kesadaran setelah bertemu Trudi. Bion mengusap pipi dan mengecup keningnya. Melihat keduanya seperti ini menjadi bukti masih ada cinta diantara mereka. " Beau , masih pusing atau sakit kepalamu?" Bion menggenggam tangan Firda dan mengelusnya dengan ibu jari. "Kepalaku terasa ringan. Aku tadi pingsan ya?" Tanya Firda setengah berbisik. "Iya, kamu kecapekan, Beau . Hari ini kita liburan yuk di tempat favorit kamu itu. Aku sudah ambil cuti buat besok?" Ujar Bion dengan lembut. "Kamu cuti, Bae ? Serius?" Firda melepaskan diri dari pelukan Bion. "Loh iya, istr...

Setangkai Lili Calla (Bag. 2)

Foto: Freepik.com Pukul 09.23 Firda terlambat lagi, kali ini hanya 23 menit. Sebuah kemajuan. Dia menoleh ke samping kiri dan kanan mobilnya, memeriksa ruang kosong untuk memarkir Citroen AMI birunya. Mobil mungil untuk Firda yang juga mungil. Sangat cocok. Sebagai seorang istri dan ibu di usianya yang awal tiga puluhan, Firda malah tampak seperti seorang siswa sekolah menengah atas. Badan mungilnya sekarang memakai pakaian casual, yang menurut Bion terlalu kekanakan, berwarna senada dengan sepatu Converse Chuck 70s ungu.   Memang kalau diperhatikan, tidak akan ada yang menyangka kalau dia sudah menikah dan memiliki seorang anak perempuan berusia 4 tahun. Apalagi dengan penampilannya yang berjaket bomber dipadu celana jeans flare berwarna hitam. Ditambah topi hitam milik Bion, dia benar-benar seperti seorang remaja tanggung.   Firda memarkir mobilnya tepat di samping mobil Jeep hitam Trudi. Nyalinya seketika menciut seperti seekor semut, kedua tangannya mence...

Setangkai Lili Calla (Bag. 1)

Foto: Freepik.com "Sudah Bunda bilang kan. Tiap kamu mau pipis seharusnya kamu bilang, bukan diam dan sembunyi!" "Buna, aaf..."  "Lihat itu, celana dan lantai sekarang basah. Kamu pikir membersihkan rumah seharian itu tidak melelahkan?!" Teriakannya itu diikuti dengan ayunan tangan kanan Firda ke paha kiri Marissa yang mungil. "Sakit, Buna. Sakit." Marissa menangis sejadi-jadinya.  Firda seolah ditarik oleh tali kekang tetiba duduk terjatuh memeluknya. Dia mengatur nafasnya dan menghitung dalam hati. satu, dua, tiga, empat, lima .  "Maafin Bunda ya, Mba." Suara parau Firda terdengar putus-putus, tercekat oleh rasa sakit di dada dan tenggorokan. Tubuhnya gemetar hebat, ada sensasi panas dan dingin yang sekaligus menyerang tubuhnya. Firda merasakan kedua kakinya tak bertenaga, seolah layu seketika, dia bersimpuh memeluk Marissa, gadis kecil kesayangannya. Terasa sangat berat. Kedua tangan kecil Marissa memeluk leher ibunya sam...