Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Doa Nara

Sumber: Jcomp via Freepik.com Pagi-pagi sekali Nara sudah menyiapkan air panas untuknya mandi. Lalu, dia bergegas menyiapkan pakaian terbaik sambil sesekali melihat jam dinding di kamarnya. Oh, alas kaki. Nara belum menyiapkannya. Dia teringat lalu setengah berlari ke kamar belakang mencari alas kaki yang pas.  "Aduh, pakai yang mana ya? Sepatu ini empuk tapi bikin gerah. Sendal ini nyaman tapi masa pakai sendal?!" Nara berbicara seorang diri. Tak lama dia mendengar suara peluit dari dapur. Air mandinya sudah matang. Nara mengambil sepatu sandal yang tidak dia pilih sebelumnya. Disimpannya alas kaki itu di samping meja tidurnya, tepat di bawah baju pilihannya yang tadi sudah menggantung rapi. Nara mandi lalu bersiap diri cukup lama, pasti karena dia ingin tampil terbaik. Sekarang Nara sudah anggun memakai dress berwarna lilac yang dipadukan dengan bandu pita cantik. Nara ingin Ayah dan Bunda melihatnya sudah rapi.  Tiba-tiba hop ada seekor kucing melompat masuk d...

Semua untukmu, Pak

Hujan masih mengguyur, Gani yang kelelahan setelah seharian memikul karung sudah mulai terkantuk-kantuk di bawah lampu tempel tua milik ayahnya. Jika banyak anak muda seusianya tidur dengan keremangan lampu tidur, aromaterapi yang menenangkan dan hangatnya selimut, Gani harus puas dengan bau menyengat dan sarung tipis yang sudah kependekan. Gigitan nyamuk dan serangga lainnya tidak lagi dihiraukan, seolah mereka memang sudah menjadi bagian dari ritual tidurnya. Beberapa kali Gani melihat seekor kecoa melintas di antara kakinya. Kaki-kaki kecilnya bersentuhan lembut dengan rambut kaki Gani, sesekali dia tersenyum karena rasa geli. Harusnya ku bunuh saja kecoa sialan itu. Kaki kanannya menepis si kecoa yang berlalu dengan cepat ke dalam tumpukan kardus. Entah apakah iba atau jijik yang dirasakan Gani ketika melihat serangga itu. Iba karena mereka berkehidupan serupa. Jijik karena makhluk kecil itu terbiasa menelesak dan memungut makanan dari berbagai jenis sampah.  Gani menggosok ked...

Lalu, dimana nurani?

"Kak, maaf ya aku perlu uang nih. Nggak banyak kok, lima ratus ribu aja." "Besok kita harus bayar pajak motor loh, jangan lupa lagi nanti kena denda." "Sudahlah Nak, kondisi kalian sekarang beda. Kalau mau kerja lagi, biar Ibu dan Bapak yang jaga anak-anak." ... Tetiba saja aku teringat semua perkataan keluargaku. Beban. Ah iya hidup itu kan memang penuh beban. Orang-orang sering melihat kehidupanku sekarang berkecukupan atau justru berlebihan. Bukan karena suamiku kaya raya tapi karena kenekatanku mengundurkan diri dari tempat yang melambungkan karirku. Karir. Sekarang pun aku wanita karir, seorang profesional yang dibayar bukan oleh uang tapi kepuasan. Kata siapa menjadi ibu bukan sebuah profesi? Oh iya, mungkin karena para ibu itu tidak keluar rumah, menenteng tas kerja, menggunakan kalung ID juga sibuk dengan gadget-nya. Padahal kerjaan ibu itu 24/7, dan istirahat ketika memungkinkan. Lah tapi bukannya sebelum aku mengundurkan diri pun jam kerjaku sepe...