Langsung ke konten utama

Apa benar Katarsis itu "Sad but good"?

Sumber: Youtube Channel Saturday Night Live (SNL) Episode 47


Banyak orang setelah selesai menonton film atau membaca buku, terkadang ada rasa sesak di dada sekaligus lega. Apakah kita salah satunya?

Rasanya jadi teringat sebuah skit A Peek at Pico dari Saturday Night Live (2022) yang menampilkan Selena Gomez (Sofie) dan Mellisa Villaseñor (Melisa) sebagai pembawa acara. Mereka mengundang dua orang tamu, Heidi Gardner sebagai seorang pustakawan, dan Chris Redd sebagai seorang penyanyi rap.

Asal Kata Katarsis

Melisa menanggapi penampilan Chris dengan mengatakan "that was sad, but it made me feel good." Sofie membalasnya dengan mengatakan bahwa perasaan itu adalah "cathartic". Katartik dalam KBBI tidak berkaitan sama sekali dengan kata 'cathartic' yang berarti sebuah pengalaman melepaskan perasaan kuat seperti marah, sedih atau luka batin yang akhirnya merasa lega.

Kata dalam KBBI yang mendekati makna ini justru adalah katarsis atau catharsis. Katarsis dikenal pertama kali dalam Poetics karya Aristotle yang bermakna pemurnian atau pembersihan. 

Aristotle menggunakan kata itu untuk pemurnian diri para penonton dari emosi negatif ketika mereka menyaksikan sebuah pementasan dengan akhir yang tragis. Kata ini kemudian populer digunakan dalam dunia pengobatan, dramaturgi dan psikologi. 

3 Makna Katarsis

Jauh sebelum Aristotle menggunakan istilah ini dalam karyanya, Hippocrates menggunakan katarsis sebagai istilah pengobatan. Katarsis yang bermakna pembersihan cenderung bersifat medis seperti membersihkan saluran pencernaan. Itu sebabnya KBBI memberi definisi katarsis sebagai pengobatan alias obat pencahar. 

Dalam dramaturgi seperti teater, film dan bercerita versi Aristotle, katarsis ini justru digunakan untuk membangkitkan rasa iba dan takut dalam diri penonton. Membayangkan diri kita menjadi tokoh dalam cerita dan mengalami pengkhianatan, kehilangan bahkan kematian. 

Emosi kita bercampur aduk, ada rasa marah, kecewa, sedih. Ruang pementasan yang gelap dan logika yang membuat kita berpikir "ah ini kan cuma cerita", justru menjadi ruang aman untuk kita mengalami gejolak emosi yang kita tahan. 

Bagaimana dengan katarsis di psikologi? Sigmund Freud dan Josef Breuer konon mempopulerkan katarsis sebagai abreaction atau talking cure dalam bukunya Studies on Hysteria. Idenya serupa dengan Aristotle yangmana emosi atau ingatan yang tertekan bisa diekspresikan dengan aman, beban fisik dan mental bisa berkurang atau hilang.

Katarsis itu 'sad but good'

Emosi yang dipendam terlalu lama bisa menumpuk dan akhirnya berubah menjadi stres, kecemasan, bahkan ketegangan di tubuh. Seringkali kita merasakan bahu kaku, dada sesak, sulit tidur, atau pikiran terasa penuh terus.

Saat emosi itu dikeluarkan dengan cara yang aman seperti menangis, bercerita, menulis, membaca cerita yang menyentuh, atau menikmati karya seni, tubuh kita bisa beralih ke keadaan yang lebih tenang. Dalam psikologi, ini berkaitan dengan aktifnya sistem saraf parasimpatik alias sistem tubuh yang membantu kita masuk ke mode istirahat dan pemulihan.

Perasaan lega setelah menangis atau setelah “larut” dalam cerita yang menyentuh inilah yang disebut 'sad but good'.

Jadi, adakah buku atau film yang berhasil membuat kamu melepaskan emosimu? Berbagi di kolom komentar yuk.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahasia Unggul Keterampilan Literasi Untuk Manusia Modern

The Purpose of learning is growth, and our minds, unlike our bodies, can continue growing as we continue to live. (Mortimer Adler) Menjelang akhir tahun 2023, Mendikbudristek Nadiem Makariem menyampaikan skor pencapaian kemampuan membaca Indonesia di tahun 2022. Indonesia mendapat skor 359 poin dalam penilaian  Programme for International Student Assessment  (PISA) itu. Goodstats menyebutkan bahwa angka ini justru terendah sejak 2000, sebab Indonesia pernah mencapai skor 402 di 2009. Tahun 2018 saja Indonesia mendapat skor 371 poin untuk kemampuan membaca. Memang sih banyak faktor penyebab yang bisa membuat skor ini anjlok. Salah satunya bisa jadi karena penilaian ini dilakukan ketika kita sedang ada dalam kondisi pandemi Covid-19 sehingga kegiatan pembelajaran menjadi tidak maksimal. Meski sebetulnya ini juga bisa disiasati dengan kegiatan dan proses pembelajaran di rumah bersama orang tua. Sayangnya memang kondisi di lapangan tidak ideal dan jauh dari harapan, apalagi ketik...

Bookstagram 101: Tips Nge-Bookstagram Untuk Pemula

"Pengen deh rasanya jadi booktok atau bookstagram, tapi gimana ya?" Kalau sempat terlintas di pikiran kita soalan di atas, tulisan saya kali ini pas untuk disimak. Tahu ngga kalau hobi membaca dan senang berbagi pengalaman soal buku bisa banget jadi bekal kita sebagai seorang bookstagram?  Sering kita melihat foto-foto buku  aesthetic , review dan rekomendasi buku, dan tips baca buku dalam setiap akun seorang bookstagram . Kalau kita tertarik untuk jadi seorang bookstagram, ternyata ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Nah, tulisan ini adalah intisari dari diskusi daring perdana Chillax  di Instagram pada Juni lalu. Bahasan topiknya adalah kehadiran buku di era digital dan bookstagram . Diskusi ini mengundang seorang blogger , bookstagram, content writer sekaligus brand ambassador Asus, Listiorini Ajeng Purvasti. Listiorini akrab dipanggil Ori sering merekomendasi buku-buku keren di akun Instagramnya. Saat ini Ori juga mengelola laman blognya sendiri yaitu HobiHep...

Tips Praktis dan Strategi Belajar Efektif Menurut Neurosains dan Psikologi

Learning is a lifelong journey, and the ability to learn is the most valuable skill you can acquire. Belajar adalah keterampilan yang terus kita gunakan sepanjang hidup. Namun, seringkali kita mengalami kesulitan ketika belajar, dan biasanya bukan cuma karena materinya saja. Kita malah sering tidak bisa belajar karena kita tidak bisa belajar dengan lebih efektif dan efisien. Buku Learning to Learn karya Barbara Oakley dan Terrence Sejnowski memiliki 12 bab. Keduanya adalah pakar neurosains terkemuka yang membagikan pengetahuan dan pengalaman mereka dari hasil studi dan pengamatannya. Di dalamnya terdapat berbagai gagasan yang menawarkan pandangan mendalam berdasarkan neurosains dan psikologi untuk membantu kita memahami cara belajar yang lebih baik.  Dalam buku ini, Oakley dan Sejnowski berbagi banyak strategi, seperti manajemen waktu yang tepat, teknik belajar yang efektif, dan pola pikir positif, supaya kita bisa meningkatkan hasil belajar. Salah satunya adalah gagasan yang dise...